Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2013

Urip Iku Mung Sawang-Sinawang

Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti hidup itu hanya pandang-memandang. Pepatah Jawa ini sebenarnya ingin menyatakan bahwa orang hidup di dunia ini hanyalah saling memandang. Artinya, saling menilai, menakar, menduga, dan mengimajinasikan. Contoh lebih jelasnya misalnya kalau melihat seseorang mengenakan pakaian bagus, aseseori mahal, kendaraan mewah, dan sebagainya kita akan dengan mudah menakar atau menduga bahwa orang tersebut tentu hidupnya senang, bahagia, dan makmur. Pandangan atau cara melihat kita kepada orang tersebut bisa saja benar. 

Akan tetapi kebenaran itu belum tentu sempurna. Mungkin juga gagasan atau pandangan kita akan orang itu salah. Bisa jadi orang tersebut memang kaya, tetapi belum tentu hidupnya bahagia seperti pandangan atau dugaan kita. Bisa saja orang yang kaya secara material itu hidupnya penuh kekhawatiran. Khawatir dirampok. Khawatir dicuri. Mungkin juga khawatir dimintai bantuan. Dapat saja terjadi orang yang kaya dalam sisi material itu di dalam hidupnya menghadapi banyak persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Mungkin saja ada saudaranya atau familinya yang sakit yang harus menjadi tanggungannya dalam waktu yang tidak berketentuan, dan sebagainya.

Pandangan demikian itu juga dapat terjadi ketika kita melihat pengemis atau pemulung. Mungkin kita akan segera punya pandangan bahwa orang yang demikian itu pasti hidupnya susah. Padahal sesungguhnya hidup mereka menyenangkan. Profesi pengemis atau pemulung yang mereka jalankan mungkin saja adalah profesi sambilan. Sementara di sisi lain mereka memiliki pekerjaan lain. Dapat juga terjadi bahwa profesi semacam itu memang mereka pilih karena hal itu menyenangkan bagi diri mereka. Mungkin sekali dengan profesi semacam itu mereka justru bisa kaya, banyak tabungan, makmur, dan hidup senang. 

Pepatah ini sebenarnya ingin mengingatkan orang agar orang jangan mudah menilai orang lain dari hal yang tampak oleh mata belaka. Pandangan orang atas apa yang dilihatnya bisa sangat keliru dengan kenyataan yang sesungguhnya.

"Tubuh manusia itu seperti tas kresek ... Yg akan berharga jika isinya berharga" .. O_O


Selasa, 26 November 2013

Umur masih 20 tahun, tapi omset usahanya Rp 350 juta sebulan

Sukses mencetak uang di usia muda, kenapa tidak ...

Sukses mencetak uang  di usia muda (1)

Menjadi pengusaha di usia muda tentu sebuah prestasi. Apalagi tidak banyak anak muda yang sukses berbisnis. Namun, untuk sukses perlu kerja keras dan kesabaran.
Itu pula yang dilakukan Hamzah Izzulhaq saat pertama kali merintis usaha pada 2010. Saat itu usianya masih 18 tahun, ketika Hamzah mendirikan CV Hamasa Indonesia yang bergerak di bidang kerajinan dan pendidikan. Melalui CV ini, Hamzah memproduksi bantal, guling, kasur, sofabed, dan sofa custom. Satu bulan produksinya 3.500 buah. Produksinya kini telah dikirim ke berbagai kota di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Di bidang pendidikan, ia mengambil kemitraan bimbingan belajar Bintang Solusi Mandiri (BSM).

Jumlah gerai bimbelnya saat ini sudah ada lima. Hingga kini total karyawannya mencapai 70 orang. "Omzet saya Rp 350 juta sebulan," ujar Hamzah. Sukses di usia muda membawa banyak pengalaman baru baginya. Itu sebabnya ia kerap diminta menjadi pembicara untuk memotivasi anak-anak muda agar berani berbisnis. "Saya sudah buktikan saya bisa sukses wirausaha di usia muda, saya juga ingin ini menjadi inspirasi untuk anak-anak muda Indonesia. Jangan takut berbisnis sejak muda," ujar Hamzah yang pernah mendapat sejumlah penghargaan.

Di antaranya Pengusaha Muda Terbaik versi Ciputra Enterpreneurship pada 2011. Di tahun sama ia juga pernah masuk lima besar nasional Kompetisi Ekonomi Bidang Bisnis Universitas Indonesia. Terakhir pada 2012 saat ia terpilih menjadi finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri.

Pria kelahiran Jakarta, 26 April 1993 silam ini telah gemar mencari uang sendiri sejak masih sekolah dasar (SD). Meski diberi uang saku dari orang tuanya, ia merasa perlu mencari tambahan sendiri. "Waktu SD dan SMP saya suka main di warnet, jadi uang sakunya kurang. Dari situ saya mulai mencari uang sendiri," ujar Hamzah.

Saat di sekolah dasar ini Hamzah pun mencari uang dengan menjual koran, jasa ojek payung kala hujan, juga mengamen. Semua ia lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya. Keahliannya mencari uang berlanjut di tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Hamzah yang kerap bermain game online di warnet, bisa mencapai level tertinggi dalam permainan. Pin level yang tinggi itu pun dijual olehnya secara online  sesama pemain game. "Kelas dua SMP dulu, saya jual game sampai harga Rp 1,2 juta untuk satu game," kenang Hamzah. 

Sejak itu ia mengerti cara mencari uang. Menurutnya ketika duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA) ia pun mulai melakukan aktivitas wirausaha. Pada kelas 1 SMA, Hamzah memulai bisnis berjualan pulsa. Modal awalnya Rp 350.000 dari hasilnya menabung.

Kala itu, ia membeli sendiri etalase dan seluruh perlengkapan berjualan pulsa. Lalu, konter pulsa itu dititip di rumah seorang teman yang memiliki warung dengan sistem bagi hasil. Sayang, bisnis ini hanya berjalan tiga bulan. "Teman saya itu sering pakai pulsa dan tidak bayar," ujarnya. Setelah itu, ia merintis berbagai usaha. Jatuh bangun pun sempat dirasakannya.